Feed on
Tulisan
Komentar

Si Andi kecil melihat mobil papanya lewat di depan sekolah dan
parkir di dekat semak belukar. Karena rasa ingin tahu yang besar,
Andi kecil mengendap-endap mendekati mobil papanya dan melihat
papanya dan Tante Nancy saling berpelukan di balik semak-semak.
Andi terus menikmati pertunjukkan itu sampai selesai. Dan ia merasa
sangat tegang dan tidak sabar untuk menceritakan pengalamannya
pada sang Mama.

Pulang sekolah, Andi langsung mencari Mamanya di dapur dan dengan
sangat antusias mengatakan, “Ma.. tadi Andi lihat Papa dan Tante Nancy
dekat semak-semak di depan sekolah. Andi pergi ke sana dan lihat Papa
ciumin bibir Tante Nancy dan ngebuka bajunya Tante Nancy, trus Tante
Nancy juga ngebukain celananya Papa, trus Tante Nancy……”

Pada saat tersebut sang Mama langsung memotong pembicaraan dan
mengatakan, “Nak, simpan dulu ceritamu ya! Mama mau denger lagi
nanti saat makan malam. Kita pengen lihat khan gimana wajah Papa
waktu dengerin cerita kamu ??” Dan si Andi kecil-pun setuju.

Pada saat makan malam si Andi kecil mulai bercerita lagi dari awal..
“Tadi Andi lihat Papa dan Tante Nancy dekat semak-semak di depan
sekolah. Andi pergi ke sana dan lihat papa ciumin bibir Tante Nancy,
dan ngebuka bajunya Tante Nancy. Trus Tante Nancy juga ngebuka’in
celananya Papa, trus Tante Nancy dan Papa mulai melakukan hal yang

pernah dilakukan Mama sama Om Dodi waktu Papa ke luar negeri itu lho..

Mama dan Papa, “?#$%?&?@?*??#??”…

(Makanya Ma.. kalo orang lain cerita, dengerin dulu sampai habis…. baru respon…hahahaha….)


1. Harta
Tidak ada gunanya hidup bergelimangan harta tanpa cinta. Harta dapat datang dan pergi setiap saat. “Cinta” yang sesat dan sesaat dapat diperoleh setiap saat, tapi cinta yang sejati tidak dapat dibeli dengan harta.
2. Perasaan Asmara
Rasa tertarik, simpati, naksir, yang merupakan asmara yang sering disalahartikan sebagai cinta. Asmara itu bukan cinta. Asmara dapat cepat berubah oleh rupa, harta, tempat dan keadaan. Asmara itu buta, tidak tahan lama dan tidak tahan uji. Cinta perlu diuji dalam suka dan duka dengan mata terbuka.


3. Rupa Saja
Kecantikan yang diluar memang indah, tapi dapat luntur termakan umur.
Utamakanlah kecantikan yang di dalam.


4. Rasa Iba
lba (rasa kasihan) memang baik dan harus ada dalam hidup kita, tapi tidak boleh menjadi dasar pernikahan. Kasihan dapat habis, tapi kasih tidak berkesudahan. Dasar pernikahan adalah kasih, bukan kasihan..


5. Untuk Kepuasan Sex Saja
Memang sex suci dan penting dalam hubungan suami - istri, namun tidak boleh menjadi tujuan utama dari pernikahan. Sex hanyalah salah satu bagian dari pernikahan. Orang yang hanya mengejar kenikmatan sex akan kecewa dan terjerat oleh kesusahan yang diciptakannya sendiri.


6. Paksaan Keluarga
Seorang anak harus patuh kepada keluarga, namun tidak boleh menyerah dalam hal nikah, kalau mereka memang salah dan anda benar. Berdoalah dan berikanlah penjelasan kepada mereka, jangan dengan kekerasan.


7. Desakan Usia
Bila usia sudah menjelang senja dan rekan - rekan sudah berpasangan, orang akan mulai gelisah (terutama pada wanita). Banyak orang akhimya “asal tabrak dan sikat.”Hindarilah tindakan tersebut. Sabarlah dan yakinilah bahwa Tuhan sudah menyediakan yang terbaik untuk anda. Jangan takut kehabisan jatah dan kadaluarsa.

8. Untuk Membalas Jasa
Orang yang telah berbuat baik perlu dibalas, tapi jangan dengan pernikahan.
Salah satu hal lain yang tidak boleh dilupakan,
dan merupakan yang terpenting adalah jangan menikah tanpa pengertian dan persiapan dengan tindakan yang nyata.
Menikahlah menurut pola rencana Allah daripada salah dan mengundang derita, lebih baik tidak menikah.
Jika tidak diteguhkan oleh Allah. Karena Allahlah yang menciptakan manusia sepasang - sepasang.
Tanpa persetujuan Allah, tidak mungkin manusia dapat bersatu !

Cerita 3 Anak Sulung

Again, dari http://suamigila.com.

Dah lama ga baca tulisan si bapak ini. Penulis buku2 gokil; Jomblo,
Gege
Mencari Cinta, Traveller’s Tale, dll.
Buat yang mau punya anak, tulisan ini lumayan juga.
Buat yang belum mau punya anak, baca aja deh, jangan bosen yaaa :p

=================

Jadi anak sulung itu no doubt tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah
menjadi kebiasaan bhawa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi pantuan
adik-adiknya. Kerap juga kita dengan anak sulung membantu orang tua
kerja.
Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu
ibu di
sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. para adik jadi insiyur dan si
sulung
tetap menjadi petani.

Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita
sendiri.
Maisng-masing dari kita kalo gak punya kakak sulung, ya jadi anak
sulung
itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar.
Harus
berbagi banyak hal dengan si kecil karena orang tua berpikir tidak
perlu
beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda.

Tapi ada satu hal yang gua lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa
pembentukan
karakter si sulung oleh orang tua. no doubt bahwa semua orang tua
ingin
mendidik anaknya dengan benar. Gua belum pernah nemu orang tua yang
niat
ngedidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari
asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar,
bermental
baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang
yang
sukses dan ada yang tidak? kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit
unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah
ada
yang menyusahkan orang tua?

Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar
menjadi
orang yang baik bagi masyarakat. then there must be something wrong
here.

Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik
sabar,
bermental tauladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan
pemimpin
yang terkenal, tidak semua sulung? deretan manusia-manusia luar biasa
sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu ada anak tengah,
malah ada yang anak tunggal. Kenapa gak semua pemimpin di dunia ini
anak
sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi tauladan dari
kecil?

Cerita 3 Anak Sulung
Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika
gua
lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas
pantai
di medan beserta 3 orang engineer lainnya. kita sebut saja mereka Pak
AA,
Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet persis.
Kita
berbagi pekrangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama,
pengantin
baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja dan ketika
tahu
bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak kawin. Di tahap ini
mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di
waktu
yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga.
keempat
engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu
di
rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik
disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan
ikat
pinggang. yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. gua
pernah
main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA
bungsu
hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik
anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB
sulung.
Diancemnya macem-macem. gua pernah main di halaman belakang dan
mendapati
BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. BB sulung jadi
mengidap
kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia
kelojotan sendiri. gua pernah tanya ke nyokap kenapa BB sulung
seperti itu.
ternyata karena stres. umur kita d bawah 10 tahun by the way, waktu
itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat
dia
sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa
harapkan
dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih
perhatian. Dia
jarang marah. malah gua gak pernah melihat dia marah, setidaknya
ketika gua
main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu gak
ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil
pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka.

10 tahun kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang
pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu
kalo ada
acara kantor bokap. tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. makin
kita
besar, kita makin lepas kontak.

25 tahun kemudian
Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya
ke
resepsi. gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. dan
ini yang
gua dapatkan:

Anak-anak AA
AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor.
AA sulung mengidap narkoba.

Anak-anak BB
BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena
dia
jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya.
BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan
berprestasi. setalh 25 tahun ini, kealinan syarafnya masih ada.

Anak-anak CC
CC bungsu sekolah di amrik.
CC tengah memilih kerja di San Diego.
CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia.

Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup?
Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang
spektakuler.
Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa
timur
di mana kita kerap berpandangan:
- Si sulung anak yang mantep, mandiri.
- Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.
Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial
gua, ada
aja yang bilang
“Lu bungsu sih dit”
“Lu bungsu ya Dit?”
“Dasar bungsu! Gini aja capek.”

Jawabannya adalah:
1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya.
Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si
bapak,
si bungsu dengan cepat belajar “Oh, nabrakin mobil gak boleh.”
Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus
suffer
dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan
kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu
jadi
well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do
better
apa nggak.

2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si
sulung.
Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka
menjadi
orang tua. Ketika mereka menemukan sulungmelakukan kesalahan, 40%
kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung
mecahin
kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa
sulung
jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu
mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan,
sulung
yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak
adil.
padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah.

Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik
kakak. Pak
AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5
tahun
kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga
approach
pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang
menyiratkan
kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- “produk gagal”

Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di
saat
AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari
ajaran
ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di il rig dan pulang-pulang
di
sabuk.

3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa.
Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi
orang
tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua
yang
anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil
mendefine
benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri ya,
gak tau
di dunia psikologi ada apa nggak. yang jelas sarajana psikologi lebih
tahu
deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman dulu. contoh kasus,

Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah
mati. Ada
yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi
giliran si bungsu pacaran dengan usi yang relatif lebih cepat, orang
tua
nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai beradaptasi
dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan di mana si
bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung pacaran di
usia
18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14 karena melihat
asyiknya si kakak.

There you have it, susahnya jadi orang tua.

Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang.
Kalo gak
pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Disetiap saat orang tua harus
dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. dan sadar
tidak
sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya.

Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak
adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu
karena
bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up fine.
Kakak
gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang gua
bilang
sangta mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar muridnya
bisa
menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now.

Tapi memang ada yang gua pelajari bokap yang gua belajar untuk nggak.
Yaitu
kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga.

Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen
kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari
oil rig
dan kakak gua nanya ke nyokap
“Mah, itu siapa?”

gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. yang
jelas,
gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki ke
kantor.
Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. gua pernah baca di
intisari
bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan banyak waktu
dengan
bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas rata-rata.

Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir.
gua
pengen make sure, he has enough attention a child can get from both
parents.

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya
terkadang
harus lebih dalam dari yang kita kira. gua cuman bersyukur gua punya
masa
kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar
gua bisa
terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil ini.

Nonton Xtra Large

wuihhh ….. dah lama gak nonton bioskop …

nonton kemarin sama si kecil rafa, dan yang ditonton kok ya untuk konsumsi dewasa … Xtra Large … lucu juga, karena nonton sama anak kecil yg masih 2,5 taon ya isinya teriak-teriak :( (puihh…. bukan ayah yg baik aku ini) gpplah …. sekali-kali …

film18081.jpg
ini sinopsisnya
Deni (Jamie Aditya), pemuda 25 tahun yang lugu dan “lurus–lurus” saja. Sebagai anak tunggal, Deni menurut saja ketika dijodohkan oleh orang tua untuk menikahi Vicky (Dewi Sandra), gadis pilihan orang tuanyaHal-hal ini membuat ‘pressure’ Deni untuk dapat menjadi suami idaman yang pantas bersanding dengan Vicky. Pertama, Deni masih ‘perjaka’ dan kedua, ukuran alat vital Deni yang sangat minim. Dua orang sahabat Deni, Stefan (Erron LeBanG) dan Juno (Alex Abbad) menyarankan Deni untuk berobat ke Mak Erot, dukun yang sudah sangat legendaris. Siasat lainnya, Juno ‘menyewa’ seorang pelacur selama sebulan penuh untuk menjadi ‘pendamping’ Deni

Berbagai kejadian-kejadian aneh, kocak, mengharukan bergulir seiring dengan realisasi Deni bahwa kebahagiaan sejati bukan pada kesempurnaan fisik, tapi pada kesempurnaan hati, seperti yang dirasakan Deni terhadap Intan…

Bagaimanakah akhir pertualangan Deni?

from http://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1808